Seputarsumsel.co.id||Kateda(Kesatuan Aliran Tenaga Dasar) Sumatra Selatan merupakan beladiri yang ditemukan oleh Tagashi seorang pertapa dari daerah Himalaya.
Di tahun 1907 Tagashi menjelajah di Tibet Utara disana ia menemukan buku berbungkus kulit dengan tulisan simbol di tahun 1907.
Seiring berjalannya waktu beladiri ini dikembangkan di Gunung Bromo tahun 1963.
Tagashi berpetualang ke Tibet Utara ia menemukan naskah kuno yang terikat kulit ditulis dalam bentuk symbol.
Selama empat puluh tahun Tagashi mempelajari buku tersebut,hingga dapat kesimpulan bahwa tujuh rahasia, saat ia menamai buku itu, setelah menerjemahkan simbol-simbol ke dalam tujuh karakter yang berbeda, berasal dari masa ketika perang tidak ada.
Dia menggambarkan ajaran itu sebagai anatomi struktural kekuatan batin manusia, dibangun oleh tujuh elemen paling murni dari kekuatan batin alami.
‘Pengetahuan ini digunakan untuk perlindungan terhadap lingkungan liar, dan juga untuk menjaga perdamaian dan harmoni. Dengan ditemukannya senjata perang, ajaran dalam buku itu menjadi semakin jarang dipraktikkan, sampai akhirnya mereka sepenuhnya dilupakan.
Pada tahun 1947 Tagashi memutuskan untuk mengikuti peta yang ditunjukkan pada halaman terakhir buku ini, percaya bahwa ini adalah perjalanan yang dilakukan oleh orang tersebut, atau orang-orang, yang terakhir menjadi penjaga buku, untuk mencegahnya dihancurkan.
Dia juga percaya bahwa ‘Tujuh Rahasia’ harus dibagikan kepada orang lain, dan bahwa setiap orang harus memiliki akses ke pengetahuan.
Selama periode 16 tahun perjalanannya melalui Nepal, India, Thailand, Malaysia dan Indonesia ia mengajar sekitar 200 siswa. Ajaran itu diberikan secara rahasia untuk mencegah mereka menyalahgunakan pengetahuan yang dihasilkan dari Bela Diri.
Setelah Tagashi meninggal di usia 89 tahun berpesan pada siapapun yang menjadi grandmaster Kateda agar mengutamakan perdamaian melalui kateda.
Lionel Henry Nasution lalu meneruskan ajaran dari Tagashi untuk mengembangkan Kateda.
Untuk Provinsi Sumsel sendiri Beladiri Kateda didirikan oleh Laurel Heydir sebagai guru besar,sedangkan Ketua Umum kateda bernama Nazaruddin,S.H
Thamrin selaku anggota kateda menyebutkan selain untuk beladiri, Kateda juga dengan olah nafasnya dapat mencegah penyakit, Kamis(16/12/2021).
Kateda Sumel memilki ranting selain di Palembang, Gelumbang Muara Enim dan Oku Selatan.
“Jadi kateda sumsel ini rantingnya ada di palembang, gelumbang muara enim dan oku selatan,” ujar Thamrin saat ditemui di rumahnya.
Thamrin menjelaskan juga Beladiri Kateda Sumsel tergabung dalam IPSI(Ikatan Pencak Silat Indonesia).
“Kateda sendiri tergabung dalam IPSI,” ujarnya.
Untuk anggota Kateda Sumsel sudah berjumlah ratusan orang.
“Jumlah anggota Kateda Sumsel sekitar ratusan orang,” kata Thamrin.
Thamrin sebagai anggota kateda bersaksi sejak bergabung latihan Kateda Sumsel penyakit hernia akutnya menghilang.
“Efek dari latihan kateda penyakit hernia saya hilang,” kata Thamrin.
Tak hanya hernia akut yang hilang, ada salah satu anggota kateda hilang penyakit asmanya setelah rutin latihan Kateda.
Diterangkan juga kalau jenjang tingkat kateda levelnya dimulai dari sabuk putih,kuning,hijau,biru,coklat,dan sabuk hitam.
Untuk jenjang selanjutnya ada jenjang Master atau Dan mulai dari 1 sampai 7 tingkat tertinggi.
“Setiap jenang butuh waktu tiga bulan sampai tes sabuk, Kateda Sumsel terbuka untuk umum jika mau bergabung,” kata Thamrin.
dr Harun Hudari,SpPD selaku wakil ketua kateda sumsel,sempat melakukan teknik olah nafas di Gunung Bromo.
Ketenangan luar biasa didapatkan setelah melakukan teknik olah nafas di gunung bromo dengan diawasi oleh para grandmaster lainnya.
Manfaat lainnya selain beladiri, dijelaskan Thamrin berguna untuk menghilangkan kecemasan.
“Pelatihan kateda secara teratur dalam menghilangkan kecemasan, apalagi kalau berlatih di alam bebas,” kata Thamrin.(*)








